JETE Indonesia – Suara “nging” atau dengungan melengking dari speaker bisa muncul tiba-tiba dan mengganggu jalannya acara. Kondisi ini biasanya terjadi akibat pengaturan atau posisi perangkat audio yang kurang tepat. Lantas, bagaimana cara mengatasi audio feedback agar tidak kembali muncul? Selengkapnya, simak tipsnya di bawah ini.
Apa Itu Audio Feedback?

Sebelum mengetahui cara mengatasi audio feedback, kamu wajib tahu bagaimana fenomena ini terjadi. Audio feedback atau acoustic feedback adalah kondisi ketika suara dari speaker kembali ditangkap oleh mikrofon, kemudian diperkuat dan dikeluarkan lagi melalui speaker. Siklus tersebut terus berulang dalam waktu yang sangat cepat hingga menghasilkan suara yang semakin keras.
Gambaran sederhananya, mikrofon menangkap suara pembicara, lalu sinyal dikirim ke speaker. Speaker mengeluarkan suara tersebut, tetapi sebagian suaranya kembali masuk ke mikrofon. Sinyal diperkuat lagi dan keluar melalui speaker. Ketika loop berlangsung, akan muncul suara “nging”. Feedback biasanya muncul pada frekuensi tertentu dan dapat berkembang dengan cepat ketika sinyal sudah terlalu tinggi.
Kenapa Audio Feedback Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor yang dapat membuat sistem audio lebih mudah mengalami feedback. Mengetahui penyebabnya akan membantu kamu menentukan solusi yang tepat, karena menurunkan volume saja belum tentu menyelesaikan masalah jika sumber utamanya adalah penempatan perangkat atau karakteristik ruangan. Berikut beberapa alasannya.
1. Gain atau Volume Terlalu Tinggi
Pengaturan gain dan volume menjadi salah satu faktor utama terjadinya feedback. Ketika gain mikrofon terlalu tinggi, sinyal yang masuk ke sistem menjadi lebih besar. Akibatnya, mikrofon tidak hanya menangkap suara pembicara, tetapi juga lebih mudah menangkap suara yang keluar dari speaker.
2. Posisi Mikrofon dan Speaker Tidak Tepat
Mikrofon yang berada terlalu dekat dengan speaker memiliki risiko feedback lebih tinggi. Situasinya menjadi lebih buruk ketika mikrofon diarahkan langsung ke speaker, karena suara dari pengeras suara dapat masuk kembali ke mikrofon dengan lebih mudah. Posisi kedua perangkat perlu direncanakan sejak awal. Perhatikan jaraknya agar tidak terlalu dekat.
3. Polar Pattern Mikrofon Tidak Sesuai
Mikrofon memiliki karakteristik arah tangkapan suara yang berbeda. Mikrofon omnidirectional, misalnya, menangkap suara dari berbagai arah sehingga lebih mudah menerima suara dari speaker di sekitarnya. Sedangkan untuk keperluan presentasi, MC, atau pidato, mikrofon dengan polar pattern cardioid merupakan pilihan terbaik karena lebih sensitif terhadap suara dari arah depan dan memiliki penolakan yang lebih baik dari belakang.
4. Ruangan Terlalu Banyak Pantulan
Karakter ruangan juga berpengaruh terhadap kemungkinan feedback. Dinding beton, kaca, lantai keramik, dan permukaan keras lainnya dapat memantulkan suara. Pantulan tersebut kemudian berpotensi kembali masuk ke mikrofon dan memperbesar masalah audio. Ruangan yang memiliki gema berlebihan membutuhkan perhatian lebih ketika sistem audio dipasang.
Baca Juga: Dolby Audio vs Dolby Atmos, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Bagus?
Cara Mengatasi Audio Feedback

Setelah mengetahui penyebabnya, langkah berikutnya adalah menerapkan cara mengatasi audio feedback secara sistematis. Jangan langsung menaikkan atau menurunkan semua pengaturan secara bersamaan. Perubahan yang terlalu banyak sekaligus justru membuat teknisi sulit mengetahui sumber masalah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dan menangani feedback.
1. Jauhkan Mikrofon dari Speaker
Langkah paling sederhana adalah memisahkan mikrofon dan speaker sejauh mungkin sesuai kebutuhan sistem. Hindari menempatkan mikrofon tepat di depan speaker atau mengarahkannya langsung ke sumber suara. Jika digunakan di sistem dengan stage monitor, posisi monitor juga perlu diperhatikan.
2. Turunkan Gain dan Volume Secara Bertahap
Jika feedback mulai terdengar, jangan panik dengan langsung mematikan seluruh sistem. Coba turunkan gain atau volume mikrofon secara perlahan hingga suara feedback berhenti. Saat melakukan sound check, mulai dari level rendah kemudian naikkan secara bertahap. Cara ini membantu menemukan titik ketika sistem mulai menunjukkan tanda-tanda feedback sehingga kamu dapat menentukan level yang masih aman.
3. Gunakan Equalizer untuk Frekuensi Bermasalah
Feedback umumnya muncul pada frekuensi tertentu. Equalizer dapat digunakan untuk mengurangi frekuensi yang menjadi sumber masalah tanpa harus menurunkan keseluruhan volume sistem. Pada sistem dengan parametric EQ, teknisi dapat mengidentifikasi frekuensi feedback kemudian melakukan pemotongan secara sempit atau narrow cut.
Jika menggunakan graphic EQ, fader pada frekuensi yang bermasalah dapat diturunkan secara bertahap. Namun, penggunaan equalizer perlu dilakukan dengan hati-hati. Terlalu banyak frekuensi yang dipotong dapat membuat karakter suara menjadi kurang natural. Jadi, fokuskan pengurangan hanya pada frekuensi yang memang bermasalah.
4. Pilih Mikrofon yang Sesuai
Pemilihan mikrofon dapat membantu mengurangi risiko feedback sejak awal. Untuk kebutuhan seperti MC, pidato, atau presentasi, mikrofon cardioid dapat menjadi pilihan karena memiliki tangkapan suara yang lebih terarah. Sementara itu, mikrofon supercardioid atau hypercardioid memiliki pola tangkapan yang lebih sempit. Jenis ini dapat digunakan pada situasi tertentu, tetapi penempatannya perlu lebih diperhatikan karena karakter sensitivitas bagian belakangnya berbeda.
Baca Juga: Spesifikasi JETE-X G8: Headphone Gaming dengan Audio Imersif

5. Lakukan Sound Check Sebelum Acara
Sound check bukan sekadar memastikan mikrofon mengeluarkan suara. Proses ini juga menjadi kesempatan untuk mencari titik yang berpotensi menghasilkan feedback sebelum audiens hadir. Cobalah melakukan pengujian dengan kondisi yang mendekati acara sebenarnya. Gunakan volume yang memang akan dipakai saat acara, minta seseorang berbicara menggunakan mikrofon, dan uji beberapa posisi di area panggung.
6. Perhatikan Posisi Stage Monitor
Stage monitor dapat membantu pembicara atau performer mendengar suara mereka sendiri. Namun, perangkat ini juga dapat menjadi sumber feedback jika ditempatkan terlalu dekat atau diarahkan ke mikrofon. Posisikan monitor dengan mempertimbangkan pola tangkapan mikrofon.
7. Gunakan Feedback Suppressor Jika Diperlukan
Event dengan kebutuhan audio yang lebih kompleks, feedback suppressor dapat digunakan sebagai lapisan perlindungan tambahan. Perangkat atau fitur ini bekerja dengan mendeteksi frekuensi yang memicu feedback dan menguranginya melalui filter. Beberapa mixer digital juga menyediakan fitur feedback suppression. Meski dapat membantu, teknologi tersebut sebaiknya tidak menjadi satu-satunya solusi.
Bagaimana Mencegah Audio Feedback Sebelum Acara?
Selain mengetahui cara mengatasi audio feedback ketika masalah sudah muncul, pencegahan sebaiknya dilakukan sejak tahap persiapan. Tim acara dapat melakukan survei venue untuk mengetahui ukuran ruangan, posisi panggung, titik pemasangan speaker, serta kondisi akustiknya. Setelah itu, tentukan posisi mikrofon dan speaker sebelum sound check. Pastikan semua perangkat sudah diuji dengan kondisi yang mendekati acara sebenarnya.
Baca Juga: Cara Menyambungkan Mic ke HP, Bikin Audio Rekaman Jadi Jernih!
Penutup
Itulah beberapa cara mengatasi audio feedback yang bisa diterapkan sebelum maupun saat acara berlangsung. Dengan mengatur posisi mikrofon dan speaker, menyesuaikan gain, melakukan sound check, serta menggunakan equalizer dengan tepat, risiko munculnya suara “nging” dapat diminimalkan.
Selain pengaturan sistem audio, penggunaan perangkat yang sesuai juga penting untuk menghasilkan suara yang lebih optimal. Untuk kebutuhan acara, presentasi, hingga aktivitas lainnya, Anda bisa memilih microphone terbaik dari JETE yang sesuai dengan kebutuhan. Temukan rekomendasi perangkat audio yang sesuai kebutuhan dan hubungi WhatsApp JETE untuk konsultasi!

